News Lalabata – Timnas Indonesia kembali gagal menunjukkan performa terbaiknya pada ajang internasional terbaru. Kekalahan beruntun dalam laga uji coba dan turnamen resmi membuat publik kecewa dan mempertanyakan arah pembinaan sepak bola nasional.
Sejumlah pengamat menilai bahwa faktor pergantian pelatih menjadi penyebab utama turunnya performa skuad Garuda.

Pasalnya, setelah pelatih asal Korea Selatan Shin Tae-yong tidak lagi menukangi tim, Indonesia mengalami transisi kepelatihan yang dinilai terlalu cepat tanpa adaptasi matang terhadap sistem permainan baru.
Baca Juga : Kluivert Minta Garuda Bangkit Lawan Irak
“Pergantian pelatih seharusnya disertai proses penyesuaian yang cukup, terutama untuk pemain muda yang baru berkembang. Tanpa itu, tim kehilangan ritme dan identitas permainan,” ujar pengamat sepak bola nasional, Arya Siregar, di Jakarta, Senin (13/10/2025).
Transisi Taktik Dinilai Tidak Efektif
Sejak pergantian pelatih ke Patrick Kluivert, gaya permainan Timnas Indonesia berubah signifikan. Jika pada era Shin Tae-yong tim dikenal dengan pressing tinggi dan serangan cepat, kini permainan lebih banyak mengandalkan umpan pendek dan kontrol bola di lini tengah.
Namun, strategi baru itu justru membuat sejumlah pemain kesulitan beradaptasi.
Beberapa pemain seperti Marselino Ferdinan dan Pratama Arhan terlihat tidak seefektif sebelumnya. Kombinasi antarlini belum terbentuk solid, sementara chemistry antar pemain juga belum stabil.
“Kluivert datang dengan filosofi Eropa Barat, tapi tidak semua pemain kita terbiasa dengan sistem itu. Dibutuhkan waktu minimal enam bulan agar pola baru bisa efektif,” tambah Arya.
Faktor Nonteknis Ikut Pengaruhi
Selain persoalan taktik, faktor nonteknis seperti jadwal padat liga domestik, cedera pemain kunci, dan minimnya uji coba internasional berkualitas turut memperparah kondisi tim.
Beberapa pemain bahkan datang ke pemusatan latihan dalam kondisi kelelahan setelah membela klub di Liga 1.
“Konsistensi performa tidak bisa dibangun kalau pemain kelelahan dan tidak punya waktu pemulihan yang cukup,” ujar mantan pelatih fisik Timnas, Ahmad Budianto.
Desakan Evaluasi Menyeluruh PSSI
Kegagalan di ajang terakhir membuat publik mendesak PSSI melakukan evaluasi total terhadap manajemen dan arah pembinaan tim nasional.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa pihaknya akan mengevaluasi kinerja tim pelatih dan seluruh jajaran staf teknis.
“Kita tidak boleh buru-buru menyalahkan pelatih baru, tapi juga harus melihat kesiapan sistem secara menyeluruh. Evaluasi dilakukan agar Timnas kembali kompetitif,” ujar Erick dalam konferensi pers di Jakarta.
Harapan ke Depan
Meski gagal dalam turnamen terakhir, sejumlah pengamat tetap optimistis dengan potensi Timnas Indonesia ke depan. Regenerasi pemain berjalan baik, dan beberapa talenta muda terus menunjukkan perkembangan di level klub maupun luar negeri.
Dukungan publik pun diharapkan tetap solid agar tim bisa bangkit di kompetisi berikutnya.
“Kegagalan ini jadi pelajaran penting. Dengan manajemen yang konsisten dan filosofi permainan yang jelas, Timnas bisa kembali bangkit,” tutup Arya Siregar.








